Thursday, 29 October, 2020

Mengetahui Sejarah Pulau Banda Melalui Dokumenter


Dirilis pada tanggal 3 Agustus 2017, Banda merupakan film dengan durasi panjang pertama yang pernah disutradarai oleh Jay Subiyakto. Untuk penulis naskah ditunjuklah Irfan Ramli, seorang penulis naskah hebat yang pernah menulis film Cahaya Dari Timue, Surat Dari Praha. Untuk narrator Bahasa Indonesia di pilih salah satu actor ternama di Indonesia, Reza Rahardian sedangkan untuk Bahasa Inggrisnya dipercayakan oleh Ario Bayu.

Sebuah documenter yang memiliki durasi 94 menit akan menceritakan kepulauan yang berada disekitar maluku, yaitu kepulauan banda. Dalam documenter ini diceritakan tentang perjalanan Belanda yang pada zaman colonial rela melakukan serangan untuk mengusir inggris pergi dari kepulauan itu. Hal itu dikarenakan pada masa itu, kepulauan Banda merupakan salah satu penghasil rempah-rempah terbesar karena pada masa itu monopoli sebuah pala lebih berharga dibandingkan emas sekalipun yang mengakibatkan bangsa eropa ber grilya untuk mencari pulau penghasil rempah yang mengakibatkan banyak perseteruan serta pertumpahan darah yang terjadi untuk memperebutkan kepulauan Banda karena hanya disitulah sebuah Pala dapat tumbuh.

Dalam film documenter ini dikisahkkan kepulauan Banda sebagai salah satu penghasil pala terbaik. Tetapi pada kepulauan ini tidak hanya berisikan Pala saja tetapi juga pembantaian berdarah. Salah seorang pemilik perkebunan pala yang juga masih memiliki darah belanda yaitu Pongky Van De Broeke menceritakan tentang kerusuhan yang terjadi berkat perbedaan ras yang berada di kepulauan banda. Lalu pada tahun 1621, jumlah penduduk yang awalnya sebanyak 14.000 orang setelah aksi yang dilakukan VOC tersebut sisa penduduknya hanya sampai 480 orang saja. Tidak hanya itu, beberapa tokoh kemerdekaan Indonesia yaitu Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa Kusuma, serta Dr. Tjipto sempat diasingkan menuju kepulauan Banda. Pengasingan tersebut yang menyebabkan munculnya ide tentang kemerdekaan sebuah bangsa terlahir.

Film documenter ini menceritakan masa suram yang tidak banyak orang ketahui tentang kepulauan banda yang dibawakan dengan narasi yang bergaya puitis dan dengan dibawakannya oleh reza rahardian maka melihat documenter tentang pulau banda ini tidak akan membuat penonton mengantuk, tidak seperti ketika melihat sinopsisnya.

Tetapi sebuah documenter tidak akan menarik jika tidak didukung dengan visualisasi yang baik, oleh karena itu film yang diarahkan oleh Jay Subiyakto ini menggunakan 6 kamera sebagai alat untuk mengambil gambar tentang bagaimana kondisi Kepulauan Banda. Berbagai cuplikan foto dan video yang membuat kita sebagai penonton semakin merasa berada di tempat kejadian itu karena visualisasi yang sangat memanjakan mata. Latar yang diambil dalam pengambilan gambar antara lain kebun pala, pesisi pantai bahkan sisa dari banyaknya benteng-benteng belanda yang sudah ditinggalkan berabad lalu yang bertebaran membuat penonton semakin tertarik untuk melanjutkan melihat documenter ini.

Untuk menemani visualisasi gambar dan video yang baik diperlukan juga audio yang menegangkan. Sebagai composer music dari documenter ini, Indra Perkasa Lie berhasil membuat dentuman music yang semakin menghentak serta megah. Untuk dapat menyaksikan documenter ini dapat disaksikan di bioskop streaming online. Layanan bioskop streaming online ini adalah bioskoponline yang dengan mengeluarkan 5.000 saja dapat menonton documenter yang dapat mengajari kita sebagai penonton tentang sejarah berdarah yang terjadi di kepulauan belanda yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat indonesia. Oleh karena itu sangat disarankan untuk menonton documenter ini untuk mengetahui bahwa harga kebebasan merupakan harga yang mahal.

0 comments on “Mengetahui Sejarah Pulau Banda Melalui Dokumenter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *